Kuman yang Malang


Klik gambar untuk mendapatkan tambahan info sederhana dan menyenangkan tentang flora normal :).

“Kan, banyak kuman…”

Begitulah ucapan sang nenek dalam sebuah tayangan iklan.

Kini, semakin banyak iklan yang menawarkan ‘jasa pembunuh kuman’, mulai dari sabun mandi, pembersih wajah, detergent, cairan pencuci lantai, dst. Kata ‘kuman’ sudah diasosiasikan dengan sesuatu yang negatif sehingga harus dibasmi. Waduh, kasihan sekali, kita—manusia—berkonspirasi membasmi kuman yang tidak berniat mencelakai, malah jika kita paham, mereka bisa jauh lebih banyak manfaatnya.

Kuman, sama seperti semua makhluk hidup lainnya, hanya berniat untuk melindungi dirinya. Dia akan cenderung ada di area yang mendukung kehidupannya dan akan menjauhi area yang mengancam dirinya. Ketika ia kebetulan berada di area yang mengancam, ia pun akan bereaksi terhadap ancaman untuk melindungi dirinya sendiri.

Jika kita paham, berbagai mikroorganisme di sekitar kita banyak manfaatnya. Kita dikelilingi dan malah bekerja sama dengan berbagai jenis bakteri. Contohnya, di daerah permukaan tubuh kita terdapat  koloni-koloni bakteri yang tinggal dengan damai. Mereka biasa disebut ‘flora normal’ atau ‘bakteri komensal’. Menurut penelitian Martin Blaser, diketahui jumlah spesies mereka mencapai sekitar 250 jenis. Salah satu divisi mereka yang tergolong dalam keluarga bacillus dan bifidobakterium dapat menghasilkan asam laktat yang akan dipergunakan untuk mempertahankan derajat keasaman (pH) permukaan tubuh (mungkin inilah salah satu alasan kenapa sabun ‘anti bakteri’ menyebabkan kulit kering dan pecah-pecah?). Kondisi permukaan tubuh yang kondusif sangat penting bagi flora normal. Hal ini akan membuat kinerja mereka semakin produktif[1].

“Sebenarnya secara filosofis, baik mikroba maupun unsur asing lain yang berasal dari lingkungan, tidak ada satu pun yang berniat buruk, hanya saja mereka datang pada waktu dan tempat yang kurang tepat. Keadaan ini sebenarnya justru terjadi karena adanya ketidakseimbangan dalam tubuh kita yang pada gilirannya dimaknai seolah-olah aktif “mengundang”.”[2]

Kesehatan kita sangat tergantung dengan kerjasama yang baik antara diri kita dengan lingkungan di sekitar kita. Hanyalah ketika terjadi ketidak seimbangan barulah penyakit itu ‘muncul’ dan itu pun system imun tubuh kita berjuang setiap saat untuk mengembalikan keseimbangannya. Saya senang dengan istilah dalam bukunya Kang Tauhid yang menyebut sistem imun sebagai Sistem Manajemen Silaturahmi Terpadu (SMST)[3].

Daripada kita ‘membasmi’, bagaimana kalau kita memahami dan bekerjasama dengan kuman? Misalnya, toilet WC yang kotor, daripada dicuci dengan cairan pencuci beracun yang ‘membunuh kuman’, cukup bersihkan saja dengan cuka dan baking soda. Bakteri yang hidup selaras dengan kotoran kita akan ikut terbuang ke septic tank tempat ia tetap bisa hidup damai dan kita terbantu oleh aktivitasnya mengurai limbah kotoran kita. Di sisi lain kulit tangan kita akan tetap halus, tubuh kita akan sehat, dan pernafasan kita akan lega.

Tulisan ini sama sekali bukan untuk meremehkan bahaya jika terinfeksi bakteri atau virus. Hanya saja seringkali ketakutan akan kuman terlalu berlebihan, ditambah diper-‘lebay’ oleh media massa (iklan). Semoga tulisan sederhana ini bisa sedikit membuka pikiran akan ‘sisi lain’ alam kita :D.


[1] Diringkas dari Tauhid Nur Azhar & Bambang Trim, “Jangan ke Dokter Lagi! Rahasia Sistem Imun & Kiat Menghalau Penyakit”, MQ Gress, Bandung, 2007, hlm 33-34

[2] Ibid., hlm. 35-36

[3] Ibid., hlm. 33

Advertisements
Gallery | This entry was posted in Kuman and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Bagaimana Menurut Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s