Cantik yang Mematikan: Terungkap Bahaya Kesehatan dalam Kosmetik dan Produk Perawatan Kulit


Jumat, 20 Januari 2006, oleh Erin Connealy, M.D.

Laci obat adalah salah satu area terbahaya di rumah Anda, dan bukan untuk alasan yang mungkin Anda pikirkan. Bersemayam di balik cermin kamar mandi Anda, dimana semua produk-produk kecantikan kesayangan berada, terdapat sebuah mimpi buruk racun. Bertambahnya bahan sintetik yang produsen tambahkan ke dalam produk-produk mereka mengubah shampoo dan pelembab paling innocent-looking menjadi ramuan racun yang dapat menyebabkan kanker atau kerusakan reproduksi setelah bertahun-tahun penggunaan. Kosmetik modern mengandung berbagai bahan berbahaya, yang lebih baik berada di tabung eksperimen daripada dalam tubuh kita.

Seperti kebanyakan orang, Anda pasti berasumsi bahwa bahan dalam produk kecantikan pasti sudah diuji cobakan untuk keamanannya sebelum mereka mendarat di rak-rak toko. Apalagi, pemerintah memiliki peraturan-peraturan untuk air yang kita minum, makanan yang kita makan, dan udara yang kita hirup. Kita akan berasumsi bahwa FDA (semacam BPPOM di Amerika) memantau industry kosmetik untuk memastikan kesehatan dan keamanan konsumen. Sayangnya, FDA tidak banyak bisa berbuat apa-apa ketika berhubungan dengan bahan-bahan yang ditemukan dalam produk kecantikan Anda. Malahan, orang-orang yang memastikan keamaan produk perawatan pribadi adalah orang-orang yang mengelola industry tersebut: The Cosmetic Toiletry and Fragrance Association (CTFA). Ilmuwan yang dibayar oleh CTFA mengisi dewan panel Cosmetik Ingredient Review (CIR) dan bertugas meregulasi keamanan produk-produk industri tersebut.

Pada tahun 2004, Environmental Working Group (EWG) merilis temuan sebuah studi yang mereka lakukan berhubungan dengan keamanan produk-produk perawatan kecantikan. Membandingkan sekitar 10.000 bahan yang ditemukan dalam 7500 produk yang berbeda dengan daftar bahan kimia yang membahayakan kesehatan, riset ini mengungkapkan bahwa CIR kurang memastikan keamanan konsumen.

Dari 7500 produk yang diuji oleh EWG, hanya 28 yang dievaluasi untuk keamanannya oleh CIR. EWG menemukan bahwa satu dalam setiap 120 produk yang dianalisis mengandung bahan yang dinyatakan oleh pemerintah diketahui atau kemungkinan bersifat karsinogenik (memicu kanker) dan hampir 1/3 produk mengandung bahan-bahan yang termasuk kemungkinan besar karsinogenik. Hebatnya lagi, 54 produk melanggar rekomendasi untuk penggunaan aman yang telah CIR tetapkan, namun produk-produk ini tetap terjual bebas saat ini.

Dari produk yang diuji, yang paling parah adalah yang mengandung bahan pemicu kanker coal tar, asam alpha hydroxyl, dan asam beta hydroxyl, dan yang mengandung bahan-bahan pengganggu hormone, phthalate.

Coal Tar

Tujuh puluh satu produk pewarna rambut yang dievaluasi diketahui mengandung bahan-bahan yang berasal dari coal tar (tertulis sebagai FD&C atau D&C pada label). Beberapa studi telah menghubungkan penggunaan pewarna rambut dalam jangka panjang dengan kanker kandung kemih, non-Hodgkin’s lymphoma, dan multiple myeloma.

Sebuah studi yang dilakukan di tahun 2001 oleh USC School of Medicine menemukan bahwa wanita yang menggunakan pewarna rambut permanen minimal sekali sebulan meningkatkan resiko mereka akan kanker kandung kemih. Studi tersebut memperkirakan bahwa “19 persen kanker kandung kemih pada wanita di Los Angeles, California, kemungkinan dikarenakan penggunaan pewarna rambut.”

Sebuah hubungan antara pewarna rambut dan penyakit non-Hodgkin’s lymphoma ditemukan pada tahun 1992 ketika sebuah studi yang dilaksanakan oleh Institut Kanker Nasional (National Cancer Institute) menemukan bahwa 20% sebuah kasus non-Hodgkin’s lymphoma kemungkinan berhubungan dengan penggunaan pewarna rambut.

Walaupun FDA belum melakukan apa pun untuk mencegah penggunaan coal tar dalam produk kecantikan, namun mereka menyampaikan pada konsumen bahwa mengurangi penggunaan pewarna rambut akan mengurangi resiko terkena kanker.

Asam Alpha Hydroxy (AHA) & Asam Beta Hydroxy

Asam Alpha Hydroxy dan Asam Beta Hydroxy biasa digunakan dalam produk-produk penghilang kerutan dan noda di kulit wajah, dan bekas jerawat. Dengan FDA kebanjiran aduan konsumen tentang kulit terbakar, pembengkakan, dan rasa nyeri akibat AHA dan BHA, mereka mulai melakukan risetnya sendiri sekitar 15 tahun yang lalu. Temuan mereka menyatakan ada hubungan antara penggunaan AHA dan BHA dengan penggandaan kerusakan kulit yang disebabkan oleh UV dan potensi peningkatan resiko kanker kulit.

Menurut Environmental Protection Agency, kanker kulit sudah mencapai angka yang mengerikan, dengan 1 juta kasus baru muncul setiap tahunnya dan satu orang meninggal setiap jam karenanya. Agensi ini mempeerkirakan bahwa dengan tingkat kecepatan saat ini, satu dari lima orang akan terkena kanker kulit dalam hidupnya.

Studi temuan FDA dipresentasikan pada CIR, tapi panel tersebut menyetujui untuk melanjutkan penggunaan AHA dan BHA “kendati  pertanyaan keamanan serius yang disampaikan oleh kelompok konsumen dan sebuah pabrikan besar,” menurut seorang juru bicara FDA.

Meskipun satu dari tiap 17 produk yang dianalisis oleh studi EWG mengandung AHA dan/atau BHA (dengan hampir 10% adalah pelembab dan 6% adalah sunscreen), hal terbaik yang FDA lakukan adalah menyarankan agar produk yang mengandung bahan tersebut mencantumkan peringatan dalam penggunaan sunscreen dan untuk membatasi terpaan matahari ketika menggunakan produk tersebut. Sebuah solusi yang aneh, karena kebanyakan produk yang mengandung bahan berbahaya ini dirancang untuk penggunaan di bawah sinar matahari.

Phthalates

Phthalates adalah industrial plasticizers yang digunakan secara luas dalam produk perawatan pribadi untuk melembabkan dan menghaluskan kulit, memberi  keluwesan pada cat kuku setelah mongering, dan meningkatkan aroma yang digunakan dalam sebagian besar produk. Studi mengindikasikan bahwa phthalates menyebabkan berbagai cacat kelahiran dan perusakan organ reproduksi, dengan sasaran setiap organ dalam sistem reproduksi pria dan menyebabkan permasalahan mulai dari berkurangnya jumlah sperma hingga cacat alat kelamin serius yang dapat meningkatkan resiko kanker.

Sementara EWG menemukan hanya empat produk yang mencantumkan phthalate (semua produk perawatan kuku), tidak dapat dipastikan berapa banyak produk yang sebenarnya mengandung bahan tersebut. Industri tidak diminta untuk mencantumkan bahan-bahan pewangi atau bahan-bahan “rahasia perusahaan” pada produk, dan phthalates seringkali jatuh ke dalam salah satu dari kedua kategori itu.

Pada September 2004, Uni Eropa memulai larangan pada semua produk kecantikan yang mengandung phthalates. California Assembly Woman, Judy Chu telah mengajukan peraturan sejenis (AB 908) untuk dilakukan pemungutan suara nanti di tahun ini agar dilaksanakan larangan yang sama di AS. Lawan-lawan dari peraturan tersebut, sebagian besar CTFA, berargumen bahwa mengubah proses pelabelan dapat memberikan keberatan ekonomi yang besar dan menyalahi rahasia perusahaan. Peraturan yang sejenis gagal tahun kemarin.

Empat Langkah Tindakan

  1. Pergilah ke www.ewg.org untuk memeriksa resiko kesehatan produk-produk kesayangan Anda. EWG telah mengumpulkan panduan 7500 produk perawatan kecantikan dan telah mengurutnya berdasarkan resiko bahannya terhadap kanker, pemicu reaksi alergi, mengganggu sistem endokrin, merusak system reproduksi dan/atau janin yang sedang berkembang
  2. Kunjungi website FDA di www.fda.gov [di Indonesia bisa ke website Badan Pengawas Obat dan Makanan—BPOM http://www.pom.go.id/] dan pahami langkah-langkah yang bisa Anda ambil untuk mengajukan keluhan atau kekhawatiran tentang produk-produk konsumen.
  3. [Tidak berlaku di Indonesia]
  4. [Rekomendasi pribadi si penulis]

[Tentang Penulis]

Dr. Connealy, M.D., M.P.H., memulai praktek di tahun 1986. Pada tahun 1992 dia mendirikan South Coast Medical Center for New Medicine dimana ia mengabdi sebagai medical director. Dr Connealy praktek dengan dasar bahwa memperlakukan permasalahan kesehatan dengan obat kimia tidak menyentuh penyebab penyakit. Dr. Connealy mengisi di kolom bulanan untuk Majalah Kesehatan Coast and OC, dan tamu dua kali seminggu di acara radio “Healthy” milik Frank Jordan. Ia secara rutin melakukan ceramah dan mengeduksi publik tentang isu-isu kesehatan.

 

Diterjemahkan dari: http://www.naturalnews.com/016898_skin_care_cosmetics.html#ixzz2Iu3CEOVB

—————————————————————————————-

Sudah terbit Buku Rumah Bersih Alami yang berisi berbagai tips perawatan rumah dan pribadi yang hemat dan ramah lingkungan. Sudah bisa dipesan melalui:

LRB Shop

Yuk, segera jadikan buku ini koleksi pribadi Anda!

Advertisements
Gallery | This entry was posted in Kosmetik dan Perawatan Pribadi, Terjemahan, Toxin and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Cantik yang Mematikan: Terungkap Bahaya Kesehatan dalam Kosmetik dan Produk Perawatan Kulit

  1. Pingback: Agar Sehat dan Cantik Ikuti ‘Program’ Limbah Rumah Bersih | Limbah Rumah Bersih

Bagaimana Menurut Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s