Tak Perlu Jauh Membeli: Hubungan Antara Produksi Bahan Kebutuhan Rumah Tangga dan Perubahan Iklim


Perubahan iklim saat ini telah menjadi topik yang sangat hangat; bukan hanya karena banyak orang membicarakannya, tapi karena orang-orang merasakannya. Sebut saja kota tempat saya tinggal (dan sudah saya tinggali selama 19 tahun—hampir dua dekade): Cimahi. Hampir dua dekade yang lalu kota ini terkenal ‘dingin’; orang-orang yang datang ke kota ini terkesan dengan hawanya yang sejuk. Hampir setiap musim hujan akan terlihat adanya kabut putih di langit, dan ketika kabut putih muncul, saya senang menghembuskan nafas dan melihat udara dingin berwarna putih keluar dari mulut.  Old story. Kini? Walaupun kota ini relatif lebih dingin dibandingkan kota besar di sebelahnya (Bandung), tapi sudah jauh dari sejuk. Kabut putih di pagi hari juga sudah jarang sekali muncul.

Apakah hal ini hanya terjadi di satu daerah? Ternyata tidak, ini terjadi di berbagai belahan dunia. Sebut saja Perth, Australia, yang merasakan musim panas terpanasnya di 2013 yang katanya akan menjadi ‘normal’ dalam beberapa dekade ke depan. Penny Whetton, ilmuwan peneliti senior CSIRO, mengatakan perubahan iklim akan meningkatkan suhu rata-rata sekitar 1-1,5 derajat celcius pada dekade berikutnya dan dapat meningkat sebanyak 5 derajat celcius pada tahun 2070[1].

Dalam Laporan Pemikiran Keempat Panel Antar-Bangsa Mengenai Perubahan Iklim (Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change[2]) disebutkan:

Warming of the climate system is unequivocal, as is now evident from observations of increases in global average air and ocean temperatures, widespread melting of snow and ice, and rising global average sea level[3](Pemanasan sistem iklim sudah sangat jelas, seperti yang sekarang tampak berdasarkan berbagai pengamatan peningkatan suhu rata-rata air dan laut dunia, meluasnya salju dan es yang mencair, dan peningkatan permukaan rata-rata laut global).

Laporan keempat tentang perubahan iklim tersebut keluar di tahun 2007. Bagaimana dengan keadaan sekarang? Kini, laporan perubahan iklim yang kelima (Fifth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change) sedang dalam proses dan akan keluar di akhir 2013. Namun, Yvo de boer, ketua iklim PBB, pada diskusi perubahan iklim di Copenhagen tahun 2009 sudah berkomentar, mengatakan bahwa laporan berikutnya akan menyampaikan temuan-temuan yang ‘mengejutkan’. Dia bahkan mengatakan bahwa laporan iklim PBB berikutnya akan, “scare the wits out of everyone (sangat membuat takut semua orang).”[4]

Sebelumnya mari kita lihat apa itu ‘perubahan iklim’ (climate change). Definisi ‘perubahan iklim’ (climate change) dalam United Nations Framework Convention on Climate Change adalah:

A change of climate that is attributed directly or indirectly to human activity that alters the composition of the global atmosphere and that is in addition to natural climate variability observed over comparable time periods[5] (Perubahan pada iklim yang disebabkan secara langsung maupun tidak langsung oleh aktivitas manusia yang mengubah komposisi atmosfir bumi dan adalah tambahan dari perubahan alami iklim, yang teramati selama kurun waktu tertentu).

Salah satu hal yang diukur dalam pengamatan perubahan iklim adalah konsentrasi karbon dioksida. Karbon dioksida adalah gas terpenting dalam efek rumah kaca. Laju pertumbuhan konsentrasi karbon dioksida adalah lebih besar selama kurun waktu 1995-2005 dengan rata-rata 1,9 ppm pertahun, dibandingkan laju pertumbuhannya pada rata-rata tahun 1960-2005 yaitu 1,4 ppm per tahun. Penyebab utama peningkatan konsentrasi karbon dioksida ini adalah penggunaan bahan bakar fosil dan perubahan penggunaan lahan[6].

Setiap kali kita pergi naik motor dan mobil, setiap truk yang berjalan mengantarkan kebutuhan hidup kita sehari-hari mulai dari bahan makanan, makanan, produk pembersih rumah tangga, produk perawatan pribadi, dsb, kita sedang membakar bahan bakar fosil dan itu artinya semakin meningkatkan laju pemanasan global.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Kita membutuhkan berbagai produk rumah tangga kita, kan?

Sekarang mari kita lihat, bukankah banyak dari produk-produk yang kita pakai sehari-hari diproduksi di daerah-daerah yang jauh dari daerah tempat kita berada? Produk perawatan pribadi, produk kebersihan rumah tangga, kosmetik, dsb yang kita miliki diproduksi di suatu tempat yang mungkin jauh dari daerah tempat kita menetap. Terdapat proses panjang dari waktu produk tersebut dibuat hingga sampai di toko/warung tempat kita membelinya, hingga kita membeli dan menggunakannya. Daerah distribusi yang luas tersebut membutuhkan banyak BBM.

Tunggu, bukankah menanam lebih banyak tanaman akan membantu mengurangi laju pemanasan global? Memang itu akan membantu, namun menurut laporan yang telah disebutkan di awal, sumber terbesar peningkatan konsentrasi karbon dioksida tetap berasal dari penggunaan bahan bakar fosil.

The primary source of the increased atmospheric concentration of carbon dioxide since the pre-industrial period results from fossil fuel use, with land-use change providing another significant but smaller contribution[7] (Sumber utama peningkatan konsentrasi karbon dioksida di udara semenjak periode pra-industri disebabkan penggunaan bahan bakar fosil, dengan perubahan pemanfaatan lahan memberikan kontribusi yang penting namun lebih kecil).

Oke, jadi aktivitas yang kita lakukan secara langsung maupun tidak langsung berdampak pada perubahan iklim, dan perubahan iklim akan mempengaruhi aktivitas kita. Kita tidak bisa menutup mata terhadap permasalahan ini dan diperlukan langkah nyata yang dapat setiap dari kita lakukan.

Kembali ke yang tadi saya sebutkan, banyak kebutuhan sehari-hari kita seperti sabun, shampoo, pasta gigi, detergent, cairan pembersih lantai, pencuci piring, dst yang diproduksi di daerah yang jauh dari tempat kita tinggal. Produk-produk ini sangat banyak dan semua rumah tangga mengkonsumsi berbagai produk ini. Postingan ini ingin menjawab tantangan bagaimana Anda dan saya dapat mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, yang berkontribusi pada perubahan iklim, dengan mengurangi pembelian produk-produk aktivitas rumah tangga yang berasal dari luar daerah, namun tetap mendapatkan kebutuhan rumah tangga sehari-hari (non-makanan).

Nah, banyak produk-produk rumah tangga diproduksi di daerah-daerah yang jauh, bagaimana kalau sekarang dibalik, setiap kelurahan dapat memproduksi sendiri produk-produk tersebut?—Tentu saja dengan bahan-bahan alami yang disediakan di wilayah itu dan wilayah sekitarnya. Jadi, setiap wilayah memiliki sumber bahan kebutuhan rumah tangga seperti sabun, shampo, pasta gigi, dan bahan pembersih rumah tangga masing-masing. Bahan dari produk-produk ini adalah bahan-bahan alami hasil bumi daerah tersebut dan sekitarnya. Atau, jika orang-orang tahu resep-nya, setiap rumah tangga bisa meracik sendiri sehingga tidak tergantung pada produk-produk kimia sintetis yang ada. Kita tinggal membeli bahan-bahannya dari pasar tradisional terdekat dengan rumah.

Solusi ini selain akan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar (yang berkontribusi besar pada perubahan iklim) juga akan melindungi kita dari bahaya bahan-bahan pengganggu system endokrin (Endocrine Disrupting Chemicals – EDCs) yang dipakai dalam produksi berbagai kebutuhan rumah tangga kimia sintetis yang selama ini kita beli[8] (ngomong-ngomong, kebanyakan bahan-bahan tersebut juga berbahan dasar minyak mentah). Kita pun tidak akan tergantung pada berbagai bahan pengawet sintetis yang selama ini dipakai untuk mensiasati lamanya waktu distribusi.

Dengan semakin meningkatnya trend kesadaran orang-orang untuk menggunakan bahan-bahan alami dalam menjalankan aktivitas rumah tangga dan perawatan pribadi, permintaan akan produksi kebutuhan rumah tangga alami pun akan meningkat. Ini bisa menjadi bisnis yang ada di setiap kelurahan yang akan menghidupkan ekonomi daerah tersebut.

Terakhir, seperti Cavallo bilang, “People should be doing something now … and not waiting for Mother Nature to slap them in the face[9] (Orang-orang harus melakukan sesuatu saat ini… dan tidak menunggu alam menampar wajah mereka).” Tantangan perubahan iklim ini bukan hal yang buruk—kalau kita siap menghadapinya.

——————————————————————————————————————————————————————————————————————————————

[1]Jayne Rickard, Record Heat Will Become ‘Normal’, The West Australian, March 2, 2013, http://au.news.yahoo.com/thewest/a/-/newshome/16279461/record-heat-will-become-normal/ diakses 2 Maret 2013 pukul 14:17 WIB.

[2] Anda bisa mendownload laporan lengkapnya pada link berikut ini: http://www.ipcc.ch/pdf/assessment-report/ar4/wg1/ar4-wg1-spm.pdf.

[3] IPCC, 2007: Summary for Policymakers. In: Climate Change 2007: The Physical Science Basis. Contribution of Working Group I to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change [Solomon, S., D. Qin, M. Manning, Z. Chen, M. Marquis, K.B. Averyt, M. Tignor and H.L. Miller (eds.)]. Cambridge University Press, Cambridge, United Kingdom and New York, NY, USA, hlm. 5.

[4] Petter Hannam, Former UN Official Says Climate Report Will Shock Nations Into Action, The Sidney Morning Herald, November 7, 2012, http://www.smh.com.au/environment/climate-change/former-un-official-says-climate-report-will-shock-nations-into-action-20121106-28w5c.html, diakses 1 Maret 2013 pukul 14: 00 WIB.

[5] IPCC, 2007: Summary for Policymakers. In: Climate Change 2007: The Physical Science Basis. Contribution of Working Group I to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change [Solomon, S., D. Qin, M. Manning, Z. Chen, M. Marquis, K.B. Averyt, M. Tignor and H.L. Miller (eds.)]. Cambridge University Press, Cambridge, United Kingdom and New York, NY, USA, hlm. 2.

[6] Ibid.

[7] Ibid.

[8] State of the Science of Endocrine Disrupting Chemicals 2012: Summary for Decision-Makers, edited by Ake Bergman, Jerrold J. Heindel, Susan Jobling, Karen A. Kidd and R. Thomas Zoeller, United Nations Environment Programme and the World Health Organization, 2013.

[9] Tim Appenzeller, End of Cheap Oil, National Geographic, June 2004.

Advertisements
Gallery | This entry was posted in Dukungan, Gigi dan Mulut, Kebersihan, Kosmetik dan Perawatan Pribadi, Lomba, Perenungan, Perubahan Iklim and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Bagaimana Menurut Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s