Bebaskan diri dari Bahan Pembersih dan Perawatan Pribadi Kimia Sintetis


 Oleh: Hanna Natalisa

Exposure to toxic materials is an ever-growing hazard of civilized existence…Permanent or temporary nervous system damage is one of the most severe consequence.[1]

limbah rumah tangga img from detik com 2 jogjaicon 2011Saat ini, kita sudah begitu tergantung kepada berbagai produk kebersihan pribadi dan rumah yang berbahan kimia sintetis (buatan manusia). Mulai dari bangun tidur kita mandi menggunakan sabun, shampoo, dan pasta gigi anorganik, lalu kita memakai deodorant dan menyemprotkan parfum kimia pada pakaian; untuk kebersihan lantai kita gunakan cairan cuci lantai kimia; untuk menjaga bau ruangan kita semprotkan pewangi ruangan kimia; kita basmi nyamuk dengan semprotan anti nyamuk kimia (yang juga bersifat ‘anti-manusia’—baca saja keterangan pada kaleng); kita cuci alat makan dan peralatan masakan dengan sabun pencuci piring kimia, dst, sehingga kondisi di dalam rumah memiliki tingkat toksisitas yang tinggi. Kita lihat berbagai penyakit alergi dan degeneratif meroket, bahan-bahan kimia ini turut membuka peluang besar pada permasalahan kesehatan ini. Seperti yang dikatakan Goetz et al dalam bukunya Neurotoxic Agents yang telah dikutip di awal artikel ini, “Paparan bahan-bahan beracun adalah bahaya berkelanjutan yang terus mengancam eksistensi peradaban… Kerusakan permanen maupun sementara sistem syaraf adalah salah satu konsekuensinya yang paling parah.”

green-cleaning-products-1Setiap dari kita adalah penghasil limbah yang beracun; setiap hari sekian ton limbah rumah tangga mencemari tanah dan air. Apakah kita berfikir bahwa setelah bahan-bahan tersebut dibuang kita akan aman? Tidak kah pernah terfikir bahwa apa yang kita hasilkan akan kembali pada diri kita?

It has been estimated that as much as 24% of human disesases and disorders are at least in part due to environmental factors [Diperkirakan sekitar 24% penyakit manusia dan kecacatan sedikitnya disebabkan oleh faktor-faktor lingkungan] (Pruss_Ustun & Corvalan, 2006)[2]

State of the Science of Endocrine Disrupting Chemicals 2012- Summary for Decision-MakersBahan-bahan dalam produk-produk yang kita gunakan sehari-hari banyak mengandung kimia pengganggu system endokrin (Endocrine Disrupting Chemicals—EDCs). Terdapat sekitar 800 bahan kimia yang diketahui mengandung EDC, namun sangat sedikit yang sudah diinvestigasi[3]. Sejak tahun 2002 sudah banyak penelitian tentang dampak EDC pada kesehatan manusia dan hewan. Berikut ini kutipan laporan yang diterbitkan oleh Endocrine Society (Diamanti-Kandarakis et al., 2009), European Commission Agency (2012):

These documents concluded that there is emerging evidence for adverse reproductive outcomes (infertility, cancers, malformations) from exposure to EDCs, and there is also mounting evidence for effects of these chemicals on thyroid function, brain function, obesity and metabolism, and insulin and glucose homeostasis[4] [Dokumen-dokumen ini menyimpulkan bahwa terdapat bukti-bukti munculnya permasalahan reproduksi (berkurangnya kesuburan, kanker, dan cacat) akibat paparan terhadap EDC, dan juga terdapat banyak sekali bukti dampak bahan-bahan kimia ini pada fungsi tiroid, fungsi otak, obesitas dan metabolism, dan keseimbangan insulin dan glukosa].

Loh, tapi kan bahan-bahan ini tidak kita makan, hanya disentuh? Hanya karena bahan-bahan ini tidak kita makan, bukan berarti kesehatan kita tidak akan terpengaruh olehnya. Bukankah apapun yang menyentuh kulit akan diserap oleh tubuh dan langsung masuk ke aliran darah.

Natural Cures They Dont Want You to Know About 150px-Kevin_Trudeau_Updated_EditionAnything put on the skin is absorbed and gets into the body…Everything you put on your skin gets into your bloodstream…We put things on our skin such as lotions, moisturizers, sun screens, cosmetics, soap, shampoo, etc…these poisons get into your body via the skin, yet because of the tremendous pressure by lobbyists and politicians the manufacturers are allowed to put these dangerous ingredients in their products. A Swiss study concluded that five of the most common ingredients in sun screens cause cancer. It is no wonder why the more sun screen you use, the higher the chance that you will get skin cancer…Underarm deodorants and antiperspirants contain deadly chemicals that many people believe to be a major cause of breast cancer in women[5] (Apa pun yang disimpan di kulit akan diserap dan masuk ke dalam tubuh…Apa pun yang Anda simpan di kulit langsung masuk aliran darah…Kita mengoleskan pada kulit hal-hal seperti lotion, pelembab, sunscreen, kosmetik, sabun, shampoo, dsb…racun-racun ini masuk ke dalam tubuh melalui kulit, tapi karena tekanan besar dari para pelobi dan politisi, produsen diperbolehkan memasukkan bahan-bahan itu ke dalam produk mereka. Sebuah studi di Swis menyimpulkan bahwa lima dari bahan-bahan yang biasa ada di sunscreen menyebabkan kanker. Pantas saja semakin banyak sunscreen yang ada pakai, semakin besar peluang Anda untuk terkena kanker kulit… Deodoran dan antiperspirant mengandung zat-zat kimia mematikan yang banyak orang percaya adalah penyebab terbesar kanker payudara pada wanita).

Jadi, If you can’t eat it, do not put it on your skin! (Ibid., hlm 97) Kalau tidak aman untuk dimakan berarti juga tidak aman untuk disentuh/dioleskan pada kulit.

Sources of Endocrine Disrupting Chemicals

Sumber-sumber EDC

Apakah permasalahan ini hanya akan mengganggu saat ini? Ternyata tidak, EDC akan juga mengganggu generasi-generasi mendatang.

Some EDCs produce effects that can cross generations (transgenerational effects), such that exposure of a pregnant woman or wild animal may affect not only the development of her offspring but also their offspring over several generations. This means that the increase in disease rates we are seeing today could in part be due to exposures of our grandparents to EDCs, and these effects could increase over each generation due to both transgenerational transmission of the altered programming and continued exposure across generations[6].

EDCs Cross Generational Hazard

Berbagai rentang waktu dalam kehidupan manusia dimana EDC dapat mengganggu perkembangannya, mulai dari dalam kandungan hingga tua.

Kebiasaan menggunakan produk pembersih beracun tidak hanya berdampak pada kesehatan setiap individu yang memakainya, namun juga memiliki dampak buruk pencemaran lingkungan yang sangat besar. Sebagai contoh saya kutip[7] sebagian dampak buruk dari pencemaran air oleh limbah rumah tangga sebagai berikut:

EDCs Find Their Way Into the Environment via Point and Diffuse Sources, as Illustrated Here

  • Berkurangnya jumlah oksigen terlarut di dalam air karena sebagian besar oksigen digunakan oleh bakteri untuk melakukan proses pembusukan sampah.
  • Sampah anorganik ke sungai, dapat berakibat menghalangi cahaya matahari sehingga menghambat proses fotosintesis dari tumbuhan air dan alga, yang menghasilkan oksigen.
  • Deterjen sangat sukar diuraikan oleh bakteri sehingga akan tetap aktif untuk jangka waktu yang lama di dalam air, mencemari air dan meracuni berbagai organisme air.
  • Penggunaan deterjen secara besar-besaran juga meningkatkan senyawa fosfat pada air sungai atau danau yang merangsang pertumbuhan ganggang dan eceng gondok (Eichhornia crassipes).
  • Pertumbuhan ganggang dan eceng gondok yang tidak terkendali menyebabkan permukaan air danau atau sungai tertutup sehingga menghalangi masuknya cahaya matahari dan mengakibatkan terhambatnya proses fotosintesis.
  • Tumbuhan air (eceng gondok dan ganggang) yang mati membawa akibat proses pembusukan tumbuhan ini akan menghabiskan persediaan oksigen.
  • Material pembusukan tumbuhan air akan mengendapkan dan menyebabkan pendangkalan.

Tak perlu jauh-jauh ke tingkat dunia, di Indonesia, Bandung khususnya, kita memiliki sungai Citarum yang dinobatkan sebagai sungai paling tercemar di dunia[8] oleh Huffington Post (2010). Berbagai limbah pabrik maupun rumah tangga dibuang begitu saja ke sungai ini. Sungai ini tampak begitu kotor, namun masyarakat tetap saja melakukan aktivitasnya ‘seperti biasa’, mungkin karena mereka tidak tahu jalan lain terhadap kondisi ini.

Akan terlambat jika kita hanya menunggu perubahan di tingkat industry dan pemerintah. Semua permasalahan limbah ini bisa mulai diselesaikan dengan langkah-langkah sederhana, yaitu—salah satunya—setiap individu mengganti produk-produk toxic-nya dengan bahan lain yang aman; aman untuk manusia (tidak meracuni tubuh ketika dikonsumsi) dan aman untuk lingkungan. Mengutip pernyataan Direktur Alliance Development Works, Peter Mucke, pada launching World Risk Report, “Disaster prevention taking ‘green solutions’ into account should become a fundamental part of international development negotiations[9] (Pencegahan bencana yang turut memperhitungkan ‘solusi hijau’ harus menjadi bagian penting dalam perundingan pengembangan internasional).” Mucke memang tidak mengomentari limbah rumah tangga secara khusus, namun perhatian akan limbah  rumah tangga yang kita keluarkan adalah salah satu ‘solusi hijau’ yang bisa kita semua lakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Semakin banyak artikel, post, dan buku tersedia untuk mengedukasi tentang bahan alami pengganti berbagai produk kimia beracun, kita tinggal membuka mata terhadapnya dan mau menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Urgensi permasalahan yang ada di hadapan mata kita saat ini dan masa depan semoga dapat menjadi motivasi untuk bertahan dengan bahan-bahan alami dan menjauhkan kita dari produk kebersihan yang beracun. Demi kehidupan kita saat ini, esok, dan anak-cucu kita.

——————————————————————————————————————————————————————–
Adapun untuk solusi-solusi, silahkan membaca post-post lain dalam blog ini :).

[1] Goetz, Christopher G., Harold L. Klawans, dan Maynard M. Cohen, “Neurotoxic Agents,” Clinical Neurology, vol. 2, Harper & Row, Philadelphia, 1987, hlm. 31, dalam Richard et al, “Epilepsy: a New Approach,” Walker and Company, New York, 1995, hlm. 183.

[2] State of the Science of Endocrine Disrupting Chemicals 2012: Summary for Decision-Makers, edited by Ake Bergman, Jerrold J. Heindel, Susan Jobling, Karen A. Kidd and R. Thomas Zoeller, United Nations Environment Programme and the World Health Organization, 2013, hlm 9.

[3] Ibid., hlm. 2

[4] Ibid., hlm. 1.

[5] Kevin Trudeau, Natural Cures “They” Don’t Want You to Know About, Alliance Publishing, US, 2004, hlm. 97.

[6] State of the Science of Endocrine Disrupting Chemicals 2012: Summary for Decision-Makers, edited by Ake Bergman, Jerrold J. Heindel, Susan Jobling, Karen A. Kidd and R. Thomas Zoeller, United Nations Environment Programme and the World Health Organization, 2013, hlm. 13.

[7] Alamendah, “Penyabab dan Dampak Pencemaran Air oleh Limbah Pemukiman”, http://alamendah.wordpress.com/2010/09/27/penyebab-dan-dampak-pencemaran-air-oleh-limbah-pemukiman/, diakses tanggal 15 Oktober 2012 pukul 13:21 WIB.

[8] Kompas, “Citarum, Sungai Paling Tercemar di Bumi”, http://health.kompas.com/read/2010/09/01/15045068/Citarum.Sungai.Paling.Tercemar.di.Bumi/, diakses 22 Februari 2013 pukul 14:00 WIB.

[9] WorldRiskReport2012 launch, “Environmental Degradation Increases the Disaster Risk Worldwide”, Press release, Brussels, 11 October 2012, 10:00 hrs.

Advertisements
Gallery | This entry was posted in Dukungan, Perenungan, Toxin and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Bebaskan diri dari Bahan Pembersih dan Perawatan Pribadi Kimia Sintetis

  1. zarahsafeer says:

    aku pernah baca penelitian gitu, katanya yg paling aman sabun attack..aman buat lingkunagn katanya sih, bener ga yah

    • lrbersih says:

      Semua jenis detergent gak ramah lingkungan :). Coba baca post berjudul ‘definisi biodegradable dan compostable’ (masukin aja keyword-nya di kotak search sebelah kanan) :).

Bagaimana Menurut Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s