Bayi Semakin Ramah Lingkungan


Sumber gambar: ciker.com

Sudah hampir sebulan bayi ketiga saya lahir. Teringat perjuangan semenjak kelahiran anak pertama dimana saya masih menggunakan pospak, sabun sintetis, dst. Waktu itu saya sebenarnya sudah ada keinginan untuk mengurangi sampah yang dihasilkan dari mengurus bayi, tapi butuh waktu dan biaya. Misalnya clodi, yang butuh waktu beberapa setahun untuk saya cicil. Saya juga menggunakan popok kain yang dibeli dari pasar, hanya sayangnya itu cocok untuk pemakaian di rumah saja, tapi ketika bepergian (saat itu saya masih berkuliah) maka tidak akan kuat untuk tidak tembus. Kini semenjak lahir, anak ketiga saya full menggunakan popok cuci ulang. Clodi yang telah susah payah saya kumpulkan ketika kakaknya bayi kini bisa diturunkan dan dimanfaatkan oleh adiknya.

Lalu (di anak pertama) saya juga masih menggunakan baby cream. Kini saya menggunakan minyak zaitun pada kulit pantat bayi setiap kali ganti popok. Saya pun tidak memberikan tambahan parfum atau bedak apa pun ke bayi kecuali minyak telon. Adapun untuk dioleskan ke kulit untuk pijat dan melebatkan rambut bisa menggunakan minyak kelapa.

Untuk membersihkan baju dan popok bayi saya membeli sekarung baking soda (25 kg) di pasar tradisional. Itu juga dulu perjuangannya tidak mudah untuk mendapatkan penjualnya, tapi setelah dulu berjuang berkeliling dan mencoba membeli ke sana dan ke sini, akhirnya saya pun berhasil mendapat langganan dimana saya selalu membeli baking soda kepadanya. Apalagi karena pemakaian saya tidak sedikit, tapi untuk mencuci baju sekeluarga (7 orang+bayi). Lumayan satu karung itu bisa cukup untuk 2 bulan.

Maksud dari postingan ini adalah bahwa memang perjuangan untuk semakin ramah lingkungan adalah proses. Kita pun harus punya keberanian untuk melakukan sesuatu yang mungkin belum umum dilakukan karena kita tahu manfaatnya, bukan karena mengikuti saja orang lain. Tidak karena ingin menyenangkan orang lain, lalu kita merusak diri sendiri. Padahal diri kita sendiri yang akan menuai akibat dari pilihan hidup kita, bukan orang lain.

Kalau kita renungi, sampah yang rata-rata orang keluarkan untuk mengurus bayi itu sangat banyak. Tak hanya itu, tapi berbagai produk bayi yang mengandung bahan kimia berbahaya pun dipakai rutin pada kulit bayi dan/atau terhirup oleh bayi. Dampak dari ini mungkin tidak langsung terasa sekian detik setelah dipakai, tapi mungkin sekian hari, sekian minggu, maupun sekian tahun ke depan. Oke, bayi mungkin tampak bersih dan wangi, tapi bagaimana efek kerusakan-kerusakan kecil yang terakumulasi pada anak kita?

Belum lagi ketika banjir, lalu kita melihat berbagai sampah popok sekali pakai (pospak) mengambang di air. Yuck!

Oh ya, dan tak hanya bayinya, sang ibu juga bisa tidak menghasilkan sampah dengan memakai pembalut cuci ulang. Saya memakai pembalut cuci ulang yang enak dipakai, mudah dicuci, dan cepat kering. Tinggal harus rajin saja, langsung cuci dan jemur pembalutnya selesai dipakai :D.

Ada banyak hal kecil yang dapat kita pilih untuk lakukan. Tak perlu menunggu orang lain—jadilah diri yang memulai. Anak-anak kita dan diri kita sendiri suatu saat akan mensyukurinya.

Salam Limbah Rumah Bersih ^_^!

Advertisements
Gallery | This entry was posted in Baking Soda, Dukungan, Kebersihan, Popok Kain, Toxin. Bookmark the permalink.

Bagaimana Menurut Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s